Posts

Showing posts with the label Diaries

Barangkali Rindu Adalah : Catatan Rasa Sail Puisi Cimanuk 2016

Pagi itu, saya yang sedang merasa sangat lega, secara mendadak jadi berdebar. Rasanya sesak dada ini hanya karena sebuah surel yang masuk ke ponsel saya. Sebuah surel dari Pak Supali Kasim, dengan subjek: pemenang lomba menulis puisi. Saya, yang notabene anak baru dalam dunia kepenulisan Indramayu dipaksa merasakan GR: wiii, gue menang?! Maka secara terburu-buru, saya unduh file berbentuk pdf itu dan meneliti nama-nama yang tertera di sana.

Di Pojok Ruangan

Tampak seperti tidak disengaja memang, ketika jemari saya menari menjelajah folder-folder yang ada di dalam netbook, hingga berhenti tepat di sebuah folder bernama kenangan. Sebagaimana sebuah kenangan, ia memang bisa muncul kembali tiba-tiba; diinginkan atau tidak. Disengaja atau sama sekali kebetulan. Dan saya kembali pada tepian itu; kenangan. Dan ternyata sebuah kenangan saja tidak cukup untuk dinikmati. Ada yang mendorong saya bergerak lebih jauh sampai akhirnya menemukan sebuah tulisan dalam blog yang dahulu begitu sering saya singgahi. Ada yang serupa dengan kenangan yang sedang saya ingat kembali dalam tulisan itu. Ada rasa yang menyeruak lagi. Bagaimana bisa sebuah tulisan mampu memutar ulang kenangan dalam episode nya yang lengkap? Apa ada yang belum selesai hingga tulisan itu dihadirkan? Semoga tidak. Entahlah. Kenangan membuat saya melihat diri saya sendiri di pojok itu, di waktu itu. Melihat bagaimana lemahnya saya, bagaimana cengeng dan melankolisnya saya. Melihat beta...

Pahitnya Kopi

Image
Bisa jadi, saya akan jadi bahan ledekan di antara teman-teman dekat saya terkait postingan ini. Saya selalu kesulitan untuk bisa menikmati secangkir kopi sampai tuntas. Ada satu kekhawatiran yang selalu menahan saya untuk menyesap kopi. Apalagi kalau bukan kondisi asam lambung yang kurang bersahabat. Sama seperti kebanyakan orang, saya bisa langsung menderita akibat segelas kopi. Jantung yang berdebar tidak karuan serta lambung yang melilit seperti kemasukan banyak udara saat masuk angin. Paling parah adalah kalau sampai tidak bisa tidur akibat dua gangguan tadi. Oh my...!

Mengungkapkan Simpati

Image
Sewaktu Bapak meninggal beberapa tahun yang lalu, para tetangga berbisik melihat kami yang tidak menunjukkan ekspresi kesedihan- dalam hal ini menangis meraung-raung. Mereka bertanya-tanya, apakah kami tidak sedih kehilangan seorang yang paling berharga untuk kami. Saat itu, kami menyambut para pelayat yang datang dengan segaris senyum, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, membuatkan minuman, bahkan akhirnya mengobrol ke hal lain yang satu-dua di antaranya menimbulkan tawa. Mamah sibuk mengurusi persoalan administrasi. Bibi memasak di dapur, berjaga-jaga barangkali ada pelayat dari jauh yang kelelahan dan butuh makanan.

The Path : Cerita Meet and Greet Raef di Rabbani

Image
Oh well, ketika benar-benar punya ide (lagi) untuk menulis, kenapa harus memotret momen yang sudah saya tunggu sejak lama ini? Yeap! Siapa tahu Raef? Mungkin nggak banyak, karena Raef di Indonesia mulai gencar dikenal mulai tahun 2014 ini. Kalaupun ada yang "mengenal" dua atau tiga tahun sebelum dia booming maka itu tak banyak. Saya sendiri "menemukan" pelantun musik positif asal Amerika itu saat berselancar di Youtube. Di tahun 2011-an, dia mendaur ulang beberapa lagu hits yang diubah liriknya hingga bernafas Islami. Sebagai contoh, dia mendaur ulang lagu Jason Mraz, I'm Yours menjadi (Rabbee) I'm Yours . Coba deh googling! 

Hadiah di Pagi Hari

Image
Serang masih digelayuti sisa hujan semalam. Kalau tak ingat pagi ini aku harus bekerja, maka sudah kurebahkan lagi tubuhku di kamar Anis yang hangat.  Kami berdua duduk di sebuah bangku kayu panjang dekat dengan warung rokok kecil di depan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Aku menunggu bis Merak-Bandung. Anis menemaniku. Kami bicara tentang banyak hal hingga bis yang kutunggu tiba. Anis memberiku tas biru kecil yang sedari tadi digenggamnya sebelum aku melompat naik ke dalam bis. Katanya, itu untukku dan Mba Isti. Aku agak tak enak hati menerimanya. Pemberian itu terlalu istimewa.

Menyikapi Kabar

Ketika bangun pagi tadi, ada kabar yang tiba-tiba membuat mata saya utuh terbuka. Sebuah pesan masuk ke telepon seluler saya, sebuah peringatan untuk tidak berkunjung ke Cilegon. Dalam pesan tersebut, katanya pantai di Karangantu Serang surut sampai 1 kilometer. Dan yang membuat pagi saya terasa tak enak adalah, kejadian itu dihubungkan dengan tsunami Aceh. Ya, Serang katanya akan dilanda tsunami. Tak jelas dikatakan seperti itu, namun saya membaca gelagat kalau broadcast message itu tepat mengarah ke sana. Hello?  Somebody please tell me the truth!

Melipat Celebes

Hey kawan hey teman semua yang mendengarkan ungkapkan rasa cinta dalam pelukan bulatkan tekad untuk raih mimpi bertepi sesegar kopi hangat temani warnai pagi mentari senja tetap bersinar di ufuk barat mari kita susun rencana kedepan kita melesat cepat jangan terhambat oleh rasa ragu tambahkan sedikit susu tuk aroma kopi yang baru Hei kau jadikanlah dirimu seperti yang kau mau Hei kau ekspresikanlah dirimu seperti yang kau mau

Bukan Perpisahan

"Bandung is not a place. It's a feeling." Ridwan Kamil, Walikota Bandung Saya tidak benar-benar tahu apa yang Tuhan gariskan. Namun tampaknya, saya memang sudah harus hengkang dari kota yang hampir 7 tahun ini menina-bobokan saya lewat udaranya yang dingin. Suatu hari, seorang kawan bertanya, "kenapa Teteh bosen di Bandung? Saya malah pingin tinggal di Bandung!" Saya tersenyum saja, tak mampu menjawab karena saya tidak betul-betul punya alasan yang bisa saya ungkapkan dengan gamblang.

Menulislah Meski Belum Sempurna

Image
Selepas "Krakatau Writing Camp" yang diadakan akhir Agustus lalu, sepertinya aku jadi lebih produktif. Hal ini kusadari ketika gagasan-gagasan kecil muncul kapan saja dan tanpa mengenal tempat, meski seringkali gagasan itu tidak membentuk satu tulisan sekalipun. Tapi kuanggap aku jadi lebih produktif mencipta gagasan.  Ketika melihat archive blog-ku pagi ini, iseng kuhitung tulisan yang kubuat selepas KWC yang mempesona itu. Sekira 21 tulisan. Jauh lebih banyak apabila dibandingkan dengan banyaknya tulisan yang kubuat pada periode Januari hingga awal Agustus 2013. Meski jumlah keseluruhan sepanjang tahun ini tidak sebanding dengan banyaknya tulisan yang kubuat pada tahun lalu.  Kadang aku heran mengapa jadi begini. Kupikir atmosfer yang dicipta di KWC kemarin besar sekali hingga kegiatan yang hanya 2 hari itu mampu membekas lama, baik secara perkawanan yang ditawarkan para pesertanya maupun semangat menulis yang sampai saat ini mempengaruhi beberapa di antara kami. B...

Gerobak Tahu Sumedang

Image
Kawan, kalau sesekali kamu bertandang ke Indramayu, coba perhatikan ini. Saat bis mulai berjalan perlahan setelah pertigaan dengan patung perahu itu, cobalah alihkan pandanganmu sesaat ke luar jendela di sisi kanan. Perhatikan baik-baik ada apa saja di trotoar Jalan Sudirman itu. Mungkin, kamu bisa menemukan satu gerobak yang menjual tahu Sumedang. Tentang gerobak tahu Sumedang itulah, aku akan bercerita. Suatu waktu, saat aku pulang ke rumah, kakak mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Kami rindu jajanan-jajanan yang kadang sulit kami temui di tempat perantauan kami. Maka, sore itu, setelah dapat beberapa jenis jajanan, kami berdua mampir di sebuah gerobak tahu Sumedang, yang letaknya di Jalan Sudirman. Tahu Sumedang, seperti namanya, memang bukan jajanan khas Indramayu tapi itu adalah makanan favoritku. Kami menunggu giliran untuk dilayani. Sembari menunggu, aku dan kakak berdiskusi tentang berapa banyak tahu Sumedang yang akan kami beli. Mata kami berdua langsung tertuju pada...

Membeli Waktu

Image
finally! finally! Sudah berapa lama kita mengenal? Satu tahun? Dua tahun? Kupikir lebih dari itu, meski lebihnya hanya sedikit. Hari ini adalah tentang kita yang kembali pada komposisi sempurna. Sudah beberapa pekan ini, atau mungkin beberapa bulan ini, kita jarang sekali bertukar cerita, meski kita ada di bawah atap yang sama. Maksudku, aku Teh Fika dan Teh Nun. Dengan Teh Ani, jaraklah yang akhirnya mempersulit kita bertemu. Ini hari yang istimewa. Bukan saja untuk Teh Ani yang hari ini menggenapi usianya yang ke dua puluh lima tahun. Tapi juga untuk kita berempat. Akhirnya, waktu itu datang juga. Kita saling membeli waktu kita masing-masing. Menghabiskan 16 jam waktu kita untuk bersama. Menangis dan tertawa saat menikmati Sokola Rimba di bioskop. Menghabiskan semua makanan yang tersaji di meja itu, lalu berbagi ruang sempit dalam boks foto yang sempitnya minta ampun itu. Lalu kita tidur beralas karpet di dinginnya udara Bandung. Menikmati sarapan ala kadarnya, beberapa...

Jeda

Image
Ada yang menjadi indah selepas jeda yang berjalan sekian lama. Kemarin, sewaktu saya membuka kembali lembar-lembar tulisan di blog ini, saya menemukan sebuah tulisan. Sudah hampir setahun berlalu sejak tulisan itu saya buat. Sebetulnya, itu adalah sebuah surat untuk seorang sahabat, tapi saya tak pernah memberinya celah untuk tahu. Namun kemarin, tiba-tiba saja ada energi yang menguap keluar dan meminta saya untuk memberitahunya tentang surat itu. Tulisan itu, bisa dibaca  di sini . Saya menyapanya di twitter, memintanya singgah sejenak di tulisan itu. Tidak ada tendensi apa-apa sebetulnya. Saya hanya sudah lama tak membagi keceriaan bersamanya. Terakhir kali bertegur sapa adalah dua pekan lalu, ketika ia mengajak untuk naik Gunung Gede Pangrango. Mungkin, saya sedang merasai rindu. Atau mungkin juga, sudah saatnya ia membaca apa yang saya tulis itu. Hingga pagi tadi, saya tak punya firasat apa-apa sampai ia mengirim sesuatu di wall facebook saya. Begini isinya, ...

Di Keping Kenangan Kita

Segala tentangmu Pak, aku tak lupa. Ada banyak persoalan yang beberapa hari terakhir ini kuhadapi, Pak. Sampai-sampai aku tak sempat menyiapkan hatiku untuk bertemu dengan kepingan kenangan yang pernah kita miliki di tempat ini. Dapatkah engkau menebak Pak, sedang berada di manakah aku saat ini? Ada satu kenangan tentang kita di dinginnya udara Kota Kembang. Gadis kecilmu ini, berbilang tahun yang lalu, mengenakan kaus hijau bergambar beruang yang sedang tertidur, dengan celana pendek dan sepatu keds, memasang pose terbaiknya di patung ikan mas besar itu. Ah, sudah berapa lamakah waktu yang telah berlalu itu? Kukira, waktu tujuh belas tahun sudah teramat wajar bagi sebuah kenangan untuk menguap. Tapi, aku masih mengingatnya. Mungkin engkaupun masih mengingatnya dengan jelas. Dan, jika waktu tak sebegitu kejam pada kita, mungkin saat ini aku tengah meneleponmu, kemudian membincang kenangan kita yang pernah ada di sini, di Sindang Reret. Pagi ini aku berjalan menyusuri j...

Meet the Strangers

Image
Dear all strangers, thank you for being so kind to me. I don't know where you are right now, but God always know. Since I can't pay anything, let God pay the rest. Ada banyak sekali orang asing di sekitar kita. Beberapa di antaranya kemudian menjadi teman baik atau sahabat, beberapa lagi diizinkan Tuhan unuk tetap menjadi asing dan tidak dikenal. Di perjalanan pulang dari kantor menuju kosan tadi, ada beberapa hal yang ingin saya tertawakan tentang episode crowded hari ini. Namun, episode-episode tentang pertemananlah yang tampaknya punya daya magnetis yang lebih besar dan menarik diri saya untuk memikirkannya dalam-dalam. Well, kamukah orang asing yang saya temui di persimpangan hidup kemarin sore itu? Sore tadi saya membaca tulisan salah seorang kawan. Sebutlah namanya Nurul. Saya memanggilnya Mbak Nurul. Belum hitungan tahun saya mengenalnya. Bertemu, mungkin baru tiga kali. Namun, entah ada kekuatan dari mana, saya merasakan ada kehangatan dari obrolan-obrolan ya...

Kepada Malam

Hanya suara langkah yang sesekali tertangkap indera pendengarku. Malam sudah merayap ke tengah. Malam, beban ini betul-betul memaku kakiku jauh melewati permukaan bumi. Pernahkah engkau merasakan sesal? Bagiku, mungkin inilah sesal itu. Membaca obrolan-obrolan di chat room itu seperti mengulang kembali hari yang telah berbilang. Aku yang ada di hari itu. Larut dalam kecerobohan kecil yang berujung pada perasaan bersalah yang dalam. Dalam sekali meski coba kututupi berulang kali. Aku membaca hati-hati mereka yang gelisah, namun dibungkus dengan selapis senyum yang tertuju padaku. Aku tahu, ada luka yang menggaris di sana, luka yang kubuat. Malam, cukupkah itu menggambarkan sesal yang tengah menjangkiti waktu-waktu yang kupunya belakangan ini? Malam, tak bisakah engkau memberi penjelasan tentang hari itu? Atau kau ajak bulan untuk berjalan mundur ke belakang, sedikit saja. Agar ia bisa memberiku terang, di antara halimun-halimun yang tak mau beranjak ini. Hanya suara ketuka...

Pulang

Kidang Kencana, 8 Angkutan kota berwarna biru menyala yang menghubungkan Jatibarang dengan Indramayu berhenti tepat di Simpang Lima. Udara panas khas pesisir langsung menyengat begitu aku turun dari dalam angkutan yang penuh sesak itu. Di hadapanku, berdiri patung buah mangga cengkir, buah khas kabupaten tempat aku dilahirkan. Inilah pintu masuk ke jantung Indramayu. Di depan gedung SMAN 1 Indramayu, aku berdiri menunggu angkutan kota 04. Beruntung, aku tak perlu menunggu terlalu lama. Betul kiranya, seperti yang kutulis dalam tulisanku sebelum ini, perjalanan pulangku kali ini, seperti memunguti lagi kenangan. Akhir-akhir ini aku memang jarang pulang. Selama enam bulan lalu, aku utuh jarang pulang karena jadwalku meliput jatuh di hari Sabtu, ditambah Mamah dan adikku lebih sering menghabiskan waktu di Depok atau Sukabumi kalau adikku tengah libur sekolah. Jadi memang tak ada gunanya pulang kalau mamah dan Dede tak ada di rumah, tho? Semalam, sewaktu aku baru pulang dari Ci...

Kenangan

Jatibarang Kereta Ciremai Ekspres yang baru beroperasi 3 hari itu perlahan melambatkan lajunya. Suara derit roda dengan rel bagiku terdengar pilu. Aku menarik ranselku, berjalan menuju pintu yang masih tertutup. Perlahan, dari balik jendela, kulihat petugas berseragam berdiri dengan tegap seolah tengah menanti kedatangan kami, disusul deretan kursi yang rapi menghias peron. Beberapa orang dengan beragam barang bawaan duduk di sana, menunggu gerbong-gerbong yang akan mengantar menuju tempat yang dituju. Kemudian sebuah papan nama yang menempel di dinding tembok tanpa ragu memastikan, bahwa inilah Stasiun Jatibarang, satu stasiun terakhir sebelum Ciremai Ekspres sampai di Stasiun Cirebon. Gerbong yang saling terkait itu kini benar-benar telah berhenti, seiring sambutan selamat datang dari pengeras suara berbunyi. Stasiun Jatibarang, Indramayu. Aku diajak memunguti kenangan tentang bapak-ku di sini. Pilar-pilar peron masih kokoh berdiri, hanya saja bangku-bangku di sana telah ber...

Surat Untuk Anakku (1)

Untuk engkau, yang lahir dari rahimku. Anakku, sebelum tuntas membaca ini, ijinkan aku minta satu hal saja darimu. Sebutlah nama Allah banyak-banyak. Hari masih pagi ketika aku memikirkanmu. Memikirkan, apakah kelak akan ada seorang manusia yang akan lahir dari rahimku? Usiaku 24 tahun saat menulis ini. Beberapa sahabat bahkan sudah bisa mengajak anaknya berlari. Aku masih menunggu, kapan kiranya Tuhan mempercayaiku. Matahari pagi ini bersinar cerah sekali, semoga engkau dapat merasakannya juga nanti. Angi pelan saja berhembus, sampai-sampai tak ada tanda yang ditinggalkannya di kulitku. Dedaunan sesekali bergoyang. Beberapa kendaraan melaju, menyisakan suara gesekan antara aspal dengan roda. Berisik? Tentu. Aku sedang berada di halaman, merasai matahari. Di pelukanku, seorang bayi berusia beberapa hari, tengah tidur terlelap. Sesekali bibir mungilnya bergerak lucu. Ia juga menggeliat saat merasa tak nyaman dengan gendonganku yang belum ahli. Matanya terpejam, beberapa kal...

Be Independent, Be Indonesian!

Sorak sorai itu, masih terngiang sore ini. Dimana Kita? Indonesia Kemarin, hampir seluruh tweet yang mampir ke timeline saya, berisi tentang kutukan bagi pembantaian muslim di Mesir, juga aksi-aksi dukungan bagi Mesir yang digalang pemuda-pemuda Indonesia. Dikabarkan di beberapa media (beberapa saja, karena media nasional jarang sekali menjadikan berita seperti ini sebagai headline ), ribuan massa memadati Masjid Istiqlal dan Gedung Perwakilan PBB di Jakarta, tak kurang dari 2.000 orang melaut di Pusdai hingga Gedung Sate Bandung,  bahkan hingga 10.000 orang memenuhi Tugu Nol Kilometer Kota Yogyakarta. Sementara di daerah lainnya, ratusan hingga ribuan orang juga turut aksi serupa. Oleh karenanya, kemarin ketika memantau dari balik meja kerja saya, saya mendendangkan lagu Dari Sabang Sampai Merauke : Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau... Sambung-menyambung menjadi satu, satu dukungan 'tuk Mesir... (dengan perubahan lirik)  Beberapa hashtag sepert...