Posts

Showing posts with the label catatan harian

6 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Ketika Ada Bazar Buku

Image
Saya baru menyadari kalau saya ini bukan penggila buku beneran. Buktinya, saya jarang banget tuh rela-rela desak-desakan datang ke event pameran atau bazar buku macam itu. Pusing dan sumpek! Saya nggak bisa berada di tengah kerumunan orang. Kalau ada bazar buku, saya memillih datang di jam yang kira-kira orang masih asyik ngetem di kantor. Saya juga nggak pernah ngejar pameran buku sampai ke luar kota, seperti waktu ada event Big Bad Wolf di Jakarta tahun lalu, yang bikin kakak saya heboh setengah mati. 

Membaca Alwy

Image
Ada sebuah senja, yang dulu juga, dipenuhi aroma kenanga (Ahmad Syubbanuddin Alwy)   Saya tidak pernah mengenal Alwy, yang dikenal sebagai sastrawan-budayawan Kota Udang. Ini bisa diartikan bahwa saya memang tidak pernah bertemu dengan Alwy, atau mendengar namanya disebut, atau membaca karyanya. Bagi saya, Alwy adalah sesuatu yang belum tercipta dalam ruang kognisi saya.

Jihad Iqro di BBC

Tadi malam, saya terlibat obrolan dengan salah satu sahabat yang termasuk laskar assabiqunal awwaluun -nya Bintang Book Corner (BBC) Indramayu. Awalnya obrolan ringan tentang kondisi di BBC akhir-akhir ini. Ya tentang suka-dukanya mengelola BBC yang baru seumur jagung pendiriannya dan baru tiga pekan beraktivitas untuk umum. Yang menarik dari obrolan kami adalah ketika (sebutlah) Mba Yen berbagi hasil diskusinya dengan salah seorang guru di Indramayu. Hmm, kira-kira begini hasil diskusi mereka:

Surat tentang Rasa Damai Itu

Pernahkah engkau merasai damai, hingga engkau tak tahu ia mengajak satu keping hatimu pergi? Aku baru saja memikirkanmu di beberapa waktu terakhir ini Pak. Tentang banyak hal yang tak bisa kita nikmati bersama dan seringkali tentang impianku yang tak bisa kau saksikan. Aku bukan anak yang bisa memenuhi janji atau benar katamu dulu, aku tak punya gairah untuk mewujudkan apa-apa yang menjadi impianku. Kurasa, kata-katamu dulu itu ada benarnya. Ah, andai hikmah itu sesuatu yang bisa langsung kita baca, tentu kita semua menjadi manusia yang bijaksana!

Ketika Angkot Jadi Gratis

Dengan malas, aku keluar dari kosan. Sudah pukul 08.00 lebih beberapa menit. Mungkin begitulah derita anak kosan, yang belum habis bulan sudah habis uang jajan. Rencananya, pagi itu aku akan pergi ke bank. Seingatku, aku masih punya simpanan di bank, jadi lebih baik kuambil untuk menyambung hidup dan menjalankan kembali usaha pulsaku yang seminggu ini terbengkalai. Di tas, tersisa uang Rp 15.000,- cukup untuk ongkos kendaraan ke bank, Masjid Salman, kemudian ke kantor dan kupikir masih cukup untuk membeli sepiring sarapan. Kulangkahkan kaki sembari mengecek twitter. Dari timeline aku dapat informasi kalau hari ini di Bandung akan dilangsungkan Angkot Day, di mana pada hari ini, angkutan kota trayek Kalapa-Dago (PP) akan dibebas-biayakan alias gratis. Wah, kebetulan sekali! Bank yang kutuju letaknya di Dago, ke Masjid Salman-pun angkutannya adalah Kalapa-Dago. Maka aku tersenyum senang. Dari kosanku menuju bank swasta itu, tak ada angkot Kalapa-Dago. Yang ada hanya angkot Stasi...

untitled

Hidup ternyata lebih dari apa yang sekedar kita pikir. Sulit, apalagi untuk saling memahami. Mudah, untuk sekedar menggoreskan luka di jiwa. Sulit, untuk berbagi, tapi mudah untuk sekedar menghamburkannya demi pernak-pernik hidup yang sedetik setelahnya pun kita lupa. Hidup, ternyata lebih dari sekedar berinteraksi dengan sesama. Hidup adalah kesempatan untuk memberikan yang terbaik pada setiap hal yang hati kita pun menuju padaNya. Tapi kadang sulit untuk mengembalikan kemurnian niat. Waktu adalah kesempatan untuk mengucap syukur, bahkan untuk mengucap 'terima kasih' pada setiap kebaikan yang kita terima, atau 'maaf' pada setiap kesalahan yang menyakiti orang lain. 10 Februari 2010