Posts

Showing posts with the label puisi

Barangkali Rindu Adalah : Catatan Rasa Sail Puisi Cimanuk 2016

Pagi itu, saya yang sedang merasa sangat lega, secara mendadak jadi berdebar. Rasanya sesak dada ini hanya karena sebuah surel yang masuk ke ponsel saya. Sebuah surel dari Pak Supali Kasim, dengan subjek: pemenang lomba menulis puisi. Saya, yang notabene anak baru dalam dunia kepenulisan Indramayu dipaksa merasakan GR: wiii, gue menang?! Maka secara terburu-buru, saya unduh file berbentuk pdf itu dan meneliti nama-nama yang tertera di sana.

Sajak Jumat

Pergilah ke masjid-masjid, wahai lelaki! Kami perempuan, biarlah tetap di sini. Sambil mengurusi anak-anak yang baru pulang sekolah. Sambil menggarami sayur berkuah. Sambil menjahiti kemejamu yang rekah. Biar kami yang menunggu di sini, menggenapi janji kami yang abadi. Kantin Salman, 7 Juli 2013 M/ 28 Sya'ban 1434 H

Hujan

Image
suatu hari, hujan menawari cerita. suatu hari, hujan menawari luka. dan kita sirna. Hanya kita yang tak lagi menikmati hujan : pada butir-butir halus itu, pada detik yang membuat kita bersama, pada pelangi yang ramah. Hanya aku yang selalu rindu : episode-episode tawa itu, ketika aku menari-nari dalam peluk rinai, ketika engkau berkejaran dengan gemuruh. Hanya engkau yang selalu tahu : betapa waktu telah lama berlari dan mungkin tak lagi kembali. Ketika aku kalah dan engkau menyerah. Hanya kita yang tak lagi mencintai hujan : pada rintik yang membuka luka, pada menit yang begitu saru. Pada kita yang tak utuh. 25 Desember 2012 Hari hujan, dan aku mengumpat di masjid. Mereka justru berlari dan tertawa. Dakota – selaksa langkah dari rumah Teh Nurma  dan yeah, nulis beginian lagi (^o^)/ sumber gambar : kimberlypackard.com
Aku tak lagi menghitung bilangan hari, kala senja mulai melingkupi, dan gulana seolah berjalan hati-hati. ~di perjalanan (kembali) ke Bandung 19 Juni 2012

Ibu dan Sepotong Kebahagiaan

Bagiku, menikmati senja bersamamu saja sudah membuat hatiku riang, pun ketika malam sudah semakin pekat dan kita menghitung gemintang yang benderang. Aku telah sempurna merasa bahagia. Bagiku, sepotong senyum yang kau hadiahkan setiap menatapku, dan sehelai belaian tanganmupun telah sanggup meredam emosi kanak-kanakku. Aku telah sempurna merasa bahagia. Ibu, maka kebahagiaan apalagi yang engkau bisikkan pada Tuhan untukku? 15 Juni 2012 M/25 Rajab 1433 H

Antara Kapal Kertas dan Kupu-Kupu Sutera Danastri... # 1

Image
Lihatlah Banyu dan Nismara ... Aku seperti terhisap matahari itu, masuk kedalam pusat galaksi warna-warni. Andai bisa aku rayu semua gugusan bintang diatas samudera itu untuk lebih mendekat dan melihat kedalam cahayaku. Aku ingin tahu seperti apa pendapat mereka tentang perahu kertas yang sekian banyak telah aku rangkai. (Astri) Ketika dulu perahu kertasku terjatuh dan hanyut terbawa arus, rintik hujan seakan menjelma menjadi dinding kristal kemilauan indah, membuai dan menyilapkan mata sangat kemerlip. Membuyarkan semua akal sehatku dan sempat aku kejar perahu itu yang berkelok diantara bebatuan karang muara yang akhirnya lenyap ditelan gelombang bijak. Kenapa aku mengejar perahu kertas itu? Karena disitu ketika aku merangkainya ada banyak gambaran tentang dirimu. Begitu bodohnya aku, kenapa juga aku melukis gambarmu dipermukaan perahu kertas itu? Yang mana mudah remuk tersentuh air meski embun sekalipun. (Astri) Ketika dulu engkau berjalan meniti jembatan diatas su...

Koma

Image
Hidup bukan repetisi, yang kutahu. Maka mari sini duduk di sampingku! Mungkin kau bisa mensesap tehmu selagi hangat, atau mengomentari waktu yang memaksamu bergegas menuju titik. melepas lelah di Taman Ganesha, 8 Desember 2011