Posts

Showing posts with the label Nostalgia

Di Rawa-Rawa

Image
Sungguh, percayalah padaku. Bisa jadi, di dalam hutan belukar atau di rawa-rawa yang tak terurus, dahulunya pernah ada bangunan tempat orang-orang berbagi cerita atau juga cita-cita. gambar milik: www.henzr.blogspot.com It did happened. Suatu kali, kalau ada kesempatan, aku ingin mengajakmu menginap di tempatku. Kemudian di suatu pagi yang cerah, aku akan menemanimu menyusuri satu jalan yang ditumbuhi palem botol di salah satu sisinya. Jalan itu tak lebar, tapi juga tak sempit. Cukup untuk dua mobil ukuran sedang saling berjajar, dan satu becak yang menyempil di antara keduanya. Tak terlalu lebar, bukan? Tapi bukan tentang jalan itu yang ingin kuceritakan meski banyak kenangan yang ingin kupunguti lagi setiap melintas di atas aspalnya. Juga bukan tentang rumah yang duapuluh tiga tahun lalu pernah kuisi dengan cerita. Ini tentang sebuah rawa, dengan ilalang setinggi orang dewasa. Belasan tahun lalu, guruku mengajariku menulis di sana.

Surat Untuk Kamu

Bahkan waktu, tak bisa mengelabui. Kamu kah, anak kecil yang dulu kulihat sedang mengencangkan tali sepatu di mushola kecil itu? Yang kemudian kuajak bicara dan aku terpaksa meminjam kartu perpustakaanmu agar aku bisa meminjam buku di perpustakaan. Lalu setelahnya, ada beberapa hari yang kita lalui bersama-sama. Aku kelas tiga SMA, berseragam abu-abu dan mengendarai sepeda. Kamu kelas tiga SMP, terkadang mengendarai sepeda, lebih sering berjalan kaki. Almamater SMP kita sama. Maka tak ada yang ragu kita ceritakan. Aku menuntun sepedaku, sementara kamu terus bercerita ; tentang kamu yang membenci sekolahku, tentang pemerintah yang tak bisa dimengerti apa maunya, tentang ayahmu, tentang rencana-rencanaku, tentang mimpimu, tentang Pariaman, tentang ibu yang kamu takzimi, tentang kakak-kakak laki-lakimu, gelisahmu... ah... banyak yang kita bagi, meski sesaat itu. Teman-temanmu menjadi teman-temanku. Di masjid, kita belajar bahasa bersama, karena itu yang kubisa dibanding pela...

Mempersiapkan Kehilangan [Sebuah Surat]

Image
Ini tentang kehilangan yang mungkin akan membuatku, membuat kita, bahagia. Lucu rasanya menuliskan ini, namun malam yang dingin, juga pecahan-pecahan kejadian yang hinggap pada takdir kita hari ini membuat aku menjadi tak sabar, begitu tak sabar untuk bisa menuliskannya. Terlebih dari itu, aku sama sekali tak mengharap kau menemukan tulisanku ini, dan dari hati aku cukup bersyukur, kau tak pernah tahu alamat blog-ku. Karena kalau tidak, kalau kau kubiarkan tahu tempat beberapa hal menjadi begitu rahasia bagiku, aku yakin, ketika kau menemukan ini, kau akan tertawa terbahak-bahak, seperti biasa. Dan aku sungguh tak mau melihat tawamu itu. Sungguh. :) Bagaimana kalau kita mulai saja, tanpa preambule yang tak penting barusan? Ah, pagi tadi kau baru saja menyebut kata preambule itu!  Beberapa menit lalu, sms-mu datang beruntun, kau sebut itu junk. Iya, kau nge- junk di hape-ku. Banyak sekali sampai overload. Kelebihan kapasitas dan memaksaku menghapus beberapa sms. Ka...

PERAHU KERTAS?

Image
Perahu Kertas sedang in lagi. Jadi topik yang segar bahkan sejak isu akan diangkatnya novel tersebut ke layar lebar. Dan tadaaaa… Mulai 16 Agustus 2012, Perahu Kertas resmi nongol  di bioskop-bioskop demi mengobati kerinduan para Agen Neptunus se-Indonesia. Apakah saya termasuk Agen Neptunus-nya si Kugy- gadis out of the box yang cinta setengah mati sama dunia dongeng? Hm… Nampaknya nggak. Sekira tahun 2011, saya bertemu Perahu Kertas, kenalan lewat sinopsis yang mangkal di balik bukunya. Dideskripsikan adalah Kugy si tukang dongeng dan Keenan yang punya hasrat pada lukisan. Yah, kisah-kisah romantisme ala anak muda gitu lah. Maka tak jadilah saya beli bukunya. Tapi, berkali-kali ke toko buku selalu ketemu dengan novel karya Dee Lestari itu. Jadi ketika ada diskon besar-besaran, saya menyambar buku itu dan membayarnya di kasir. Novel yang akhirnya menjadi teman saya di sela-sela perjalanan tugas pemantauan tahun lalu. Dari judulnya saja, sudah sanggup membawa diri saya ...

Letter to Dad

Image
It has been a year, Dad . Apa yang kutahu tentangmu? Aku tersenyum, rasanya tak sebanyak yang kau tahu tentang aku, bukankah selalu seperti itu? Pak, kumulai surat ini dengan tidak menanyakan kabarmu. Aku berharap, Allah menerima doa-doa kami untukmu. Hanya itu yang bisa kami hadiahi padamu, Pak.  Takbir hari raya sudah terdengar sore itu. Suara takbir hari raya akan selalu membawa ingatku padamu, Pak. Biasanya engkau pulang lebih cepat dan dengan cerewet menyuruh kami berlima cepat-cepat membayarkan zakat ke masjid, atau ke tetangga dekat rumah, atau ke mushola. Dan biasanya itu menguras emosi. Kami biasanya berangkat ke masjid dengan langkah gontai, atau mengetuk pintu tetangga dengan tak sabar, agar bisa segera kembali ke rumah, menunggu adzan Maghrib dikumandangkan sembari menyiapkan lontong buatan Mbah Mi yang telah matang, juga semur yang sudah mengepul aromanya. Kalau ingat itu, aku ingin tersenyum. Rasanya, justru hal-hal kecil macam itu yang kurindukan sekara...

Bertemu Kawan Lama

Ada satu cerita, tentang seorang kawan. Indra Prahara (yang oleh kami sering dibubuhi begini : Indra Prahara Prabu Siliwangi. Prahara Prabu Siliwangi dulu pernah populer di televisi). Minggu siang yang cerah. Aku sedang asyik mengerjakan laporan kegiatan pelatihan yang sebenarnya sudah basi untuk diselesaikan. Namun tugas adalah amanah, kan? Maka hari itu aku ingin menuntaskannya, di sekre Forum Silaturahmi Aktivis Sosial yang tak jauh dari Jalan Puter. Teh Tumi ada di hadapan saya. Kegiatan favoritnya adalah men- download . Download apa saja, selama bisa mendukungnya dalam mengajar beberapa hari ke depan. Maka netbooknya yang kembaran dengan netbook-ku itu penuh berisi hasil downloadan : lagu berbahasa Inggris, buku-buku cerita berbahasa Inggris, video pengajaran berbahasa Inggris, lembar-lembar permainan berbahasa Inggris, juga film-film. Sesekali ia melirik facebook atau yahoo messenger untuk kemudian merutuki tak ada satupun yang tengah online yang bisa diajaknya mengobrol t...

Sayap Kupu-Kupu

Image
Waktu SMA, parah. Si saya jatuh cinta. Bukan sama laki-laki (jatuh cinta sama laki-laki mah saya akui waktu masih SMP, berlanjut sampai SMA, pada orang yang sama. Sekarang tamat.), tapi sama kupu-kupu, yang terus terang, begitu mengalihkan dunia saya. Waduh. Iya betul. Suka sekali, cinta sekali menikmati kupu-kupu terbang berkeliaran di taman sekolah. Sampai hafal rasanya, kapan kupu-kupu itu banyak berkeliaran (lho?). Kalau sudah musim bunga, biasanya kupu-kupu bermunculan. Entah dari mana. Saya nggak pernah lihat kepompongnya di sekitar sekolah. Mungkin mereka datang dari lahan kosong dekat sekolah. Bisa jadi. Atau kepompong mereka terselip di antara dedaunan pohon mengkudu. Ini bisa jadi juga. Yang jelas, saya selalu menantikan musim ini, saat udara wangi terasa. Kalau sudah banyak kupu-kupu yang datang (kebanyakan yang bersayap biru dan hijau, sesekali hitam dengan ukuran lebih besar), beberapa hari kemudian pasti banyak sayap kupu-kupu yang tergeletak di halaman s...

Pak Djarot #2

Jreng jreng... Saya menulis tentang Pak Djarot lagi. Hobi amat? I do nothing for him, exactly. Siapa sih beliau? Tepatnya, beliau adalah orangtua saya ketika di sekolah dulu. Sudah kurang lebih delapan bulan ini beliau sakit. Tadi, saya baca postingan salah seorang kawan SMA, sebut saja namanya Fajar. Beliau bilang Pak Djarot kurus sekali, hanya sekitar 30 kilogram saja beratnya (walah, lebih 'ndut' saya!) karena beliau rada ogah makan. Mungkin memang selera makannya menurun drastis, atau mungkin memang sakit yang tak tertahankan.  Saat ini, beliau kembali ke rumahnya yang di Indramayu. Saya jadi berpikir, siapa yang akan menjaga beliau di sana, sementara tak ada keluarga satupun di Indramayu? Hm, mudah-mudahan tetangganya digerakkan hatinya untuk selalu membantu Pak Djarot, seperti yang selama ini mereka lakukan. InsyaAllah. Aaah, tiba-tiba saya jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Saya bermimpi, saudara-saudara! Dalam mimpi saya tersebut, dikisahkan bahwa saya ...

Perjalanan : Menulis

Image
Kapan tepatnya saya mulai menulis? Hm, saya sendiri tidak begitu tahu, namun yang jelas hari itu, ketika saya masih kelas dua sekolah dasar, Bapak memperkenalkan saya pada sebuah mesin tik di kantornya. Saat itu, saya baru memiliki seorang adik. Perasaan gembira itu saya tuangkan dalam beberapa kata, dengan judul Adikku. Ya, sebuah puisi khas anak-anak yang polos, apa adanya. Di sekolah dasar saya, Ibu Guru sering menyuruh kami menulis, terutama ketika ada event tertentu seperti libur lebaran atau libur kenaikan kelas. Saya menyukainya karena saya punya banyak hal untuk diceritakan, seperti ketika harus duduk di sela gerbong kereta ketika pulang lebaran di rumah nenek atau ketika menemani Bapak berjalan-jalan menengok sapi miliknya. Saya mengawali hobi saya menulis dengan menulis puisi, berlanjut dengan menulis pengalaman pribadi. Ketika saya mengakrabi majalah Bobo, saya mulai tertarik menulis cerita fiksi. Alhasil, saya menyediakan buku khusus untuk menulis cerita, yang kad...