Posts

Showing posts with the label Perjalanan

Monokrom

Image
Di sini, semuanya mendadak menjadi monokrom; hitam dan putih. Atau di antara keduanya; kelabu. Matahari sudah bergeser ke barat beberapa derajat dari titik tengahnya ketika saya dan teman-teman turun dari elf. Perjalanan dari Terminal Pariuk Aweh di Kabupaten Lebak- Banten, menuju Terminal Ciboleger kami tempuh dalam waktu satu jam, cukup untuk istirahat menyimpan energi. Akhirnya kami sampai di Ciboleger siang itu (29/03), terlambat satu jam dari perkiraan semula. Ciboleger adalah terminal terakhir menuju perkampungan Suku Baduy. Semacam entry point sebelum memulai perjalanan sepanjang 13 kilometer dengan berjalan kaki. Di sinilah tempat segala sesuatunya dimulai dan dicek kembali.

Seba Baduy : Hening Di Antara Hiruk Pikuk

Image
Selepas Magrib, aku dan temanku, Yehan, berjalan kaki dari Ciceri menuju Alun-Alun Serang. Butuh sekitar 20 menit untuk meniti trotoar menuju Alun-Alun. Ada banyak hal yang bisa ditemui ketika kita memutuskan untuk berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan. Seperti yang kutangkap sewaktu menyusuri trotoar di Serang malam itu; udara malamnya yang pengap, tidak jauh berbeda dengan udara Serang di siang hari, trotoar yang berlubang di beberapa bagian juga helaan deru kendaraan bersahutan dengan klakson yang juga sering dibunyikan. Serang malam Minggu kemarin bagiku pengap dan bising.

Bandung #1 : Ngaprak Cikapundung

Image
Well, tujuh tahun hidup di tanah dan dengan air bumi Priangan rasanya tak pantas kalau saya tak membuahkan satu tulisanpun tentang daerah yang konon semula merupakan danau purba ini. Dan meski beberapa tempat sudah dijelajahi, tapi saya tertarik untuk menulis tentang  eco adventure dulu, sebuah kegiatan sosial yang diprakarsai gerakan Earth Hour Bandung (@EHBdg) hari Minggu (23/03) lalu untuk mengenalkan Sungai Cikapundung ke generasi muda. Menarik? Tentu saja! No preparation. Satu-satunya persiapan saya hanyalah sandal crocs kuning, ransel dengan rupa-rupa isi (karena hendak mengerjakan tugas juga), kaos, sebotol air mineral dan dua potong odading hangat yang saya beli di Simpang Dago untuk menenangkan konser di perut. 

Cirebon #3 : Mengintip Keraton Kanoman

Image
Catatan ini adalah catatan ketiga atau the last chapter dari cerita jalan-jalan saya di Kota Udang, Cirebon. Sengaja ditulis dengan urutan terbalik, dimulai dari acara makan siang empal asem Amarta lalu cerita nostalgia di Sunyaragi dan sekarang, saya akan bertutur tentang salah satu keraton di Cirebon. Yang terjadi sesungguhnya adalah, saya mengunjungi Keraton Kanoman terlebih dahulu, berlanjut ke Gua Sunyaragi dan berakhir di Amarta. Sekali lagi, ini sengaja ditulis dengan urutan terbalik. :)

Cirebon #2 : Sunyi di Sunyaragi

Image
Perjalanan ini saya sebut sebagai perjalanan nostalgia. Setelah tidak mendapatkan tiket kereta untuk pulang ke Bandung dan terpaksa menginap semalam di rumah teman masa kuliah, akhirnya saya putuskan untuk menjelajah beberapa sisi Cirebon. Selain terkenal dengan Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Situs Makam Sunan Gunung Jati dan sentra batik Trusminya, Cirebon juga masih menyimpan kekayaan wisata yang lain. Saya harus me- recall ingatan ketika saya masih berusia lima tahun, ketika saya asik masuk dan keluar dari gua-gua : Tamansari Gua Sunyaragi. Ya, ke tempat inilah saya akan bernostalgia!

Bali #9 : Pulang

Image
Another summer day has come and gone away in Paris and Rome but I wanna go home Mmmmmmmm May be surrounded by a million people I still feel all alone I just wanna go home Oh, I miss you, you know - Home, a song by Michael Buble Pulang. Malam itu, selepas menikmati Bedugul, Tanah Lot dan Kuta, aku menangis. Aku ingin cepat-cepat pulang ke Bandung. So melancholic! Sudah kurapikan semua barang-barangku di kamar ini. Aku tinggal mengangkutnya. Tapi langit masih gelap bahkan belum sampai bagian pertengahannya. Kepulanganku masih 17 jam lagi dan itu bukan waktu yang sebentar.

Bali #8 : Lucky!

Agak sulit traveling ke Bali kalau kamu bukan bikers ! Ini yang terjadi padaku. Informasi yang kudapat dari Pak Gde (Pak De), penjaga hotel, dari tempatku menginap menuju ke Kuta butuh waktu kurang lebih 1 jam. Itu kalau naik angkutan umum. Pertama harus naik bemo (angkot) dari Terminal Ubung, lalu menyambung naik bis ke Kuta. Repot. Jumlahnya terbatas pula. Jadi kucoret Kuta dari daftar tempat yang ingin kukunjungi di Bali. Itu artinya, kucoret pula impian memotret lembayung senja di Kuta untuk kuhadiahkan pada teman yang suka sekali lagu Lembayung Bali-nya Saras Dewi. 

Bali #7 : Studying

Dipikirnya aku ini sedang bertualang. Iya, aku ini sedang bertualang mendalami ilmu! Semoga berkah, semoga berkah. Aamiin. Tak banyak yang tahu kalau aku sedang di Bali. Dan hanya sedikit yang tahu apa sebenarnya tujuanku datang ke Pulau Dewata. Seminar dan workshop ke-psikologi-an bertebaran di Bandung sana. Tema yang diangkat tak jauh dari tema-tema industri, perkembangan atau pendidikan. Jarang ada yang mengangkat tema sosial. Nah, begitu tahu ada seminar dan workshop bertema sosial di Bali, kualihkan impianku yang semula hendak berlibur ria di Makassar ke Bali, untuk belajar dan tentu memenuhi persyaratan akademikku. So, untuk urusan inilah aku di Bali sekarang.

Bali #6 : Tragedy!

Halo, Bali! Universitas Dhyana Pura, tempat acara Seminar dan Workshop Psikologi Forensik, letaknya lebih dari 3 kilometer dari hotel tempatku menginap. Terletak di Jalan Padang Luwih, Dalung-Kabupaten Badung. Kampusnya kecil dibanding kampusku di Bandung. Jauh-jauh aku kemari hanya untuk menghilangkan huruf 'n' dari kata Ba(n)dung. Kalimat barusan tak usah dianggap serius. Hehe. Acara seminar dan presentasi paper di kelasku sudah selesai pukul 16.00 WITA. Langit cukup cerah jadi kuputuskan untuk berjalan kaki pulang ke hotel. Tak kuhiraukan ujaran Pak Gde, supir ojekku yang memintaku menghubunginya kalau acara selesai agar ia bisa menjemput. Tiga kilometer? Ah, dahulupun aku sering berjalan kaki pulang dari sekolah yang jaraknya hampir 3 kilometer dari rumah.

Bali #5 : It's Just the Beginning

Voila! Bali! Why people talk about Bali too much? Kenapa Bali jadi the most popular place bagi para traveler ? Bahkan di TripAdvisor, Bali jadi tempat yang paling dilongok wisatawan di web traveling itu? Sayangnya aku tiba malam hari di Pelabuhan Gilimanuk dan masih harus menempuh perjalanan selama 3 atau 4 jam lagi menuju jantung-nya Bali. Yang kulihat sepanjang perjalanan hanyalah pepohonan, mobil-mobil besar yang menuju pelabuhan, dan beberapa rumah yang kemudian diselingi lagi dengan pepohonan. Gelap. Hujan turun rintik-rintik di luar sana. Sampai di sini, aku belum memutuskan akan turun di mana.

Bali #4 : Sampai

Oke, oke. Aku tahu kau mulai tak sabar. Tapi sungguh perjalanan ini memang lama sekali. Aku tak bisa lagi mengingat berapa kali kulirik jam tangan, jam pada ponsel, juga menghitung waktu yang sudah kulewati dengan sepuluh jemari tanganku. Monyet-monyet berdiri mematung ketika bis melewati tepian Taman Nasional Baluran. Mereka mengharap para pelintas bisa membagi sedikit makanan. Pemandangan monyet-monyet di Baluran sudah terlewat beberapa jam lalu.

Bali #3 : Subuh

Image
Aku tidur karena mengantuk, tapi terbangun berkali-kali. Berganti posisi dari kaki yang menjulur, bersila, dan menenggelamkan wajahku di antara lipatan kaki. Semua kulakukan agar perjalananku ini nyaman. Kota-kota sudah terlewati; Pekalongan, Batang, Semarang. Malam makin gelap di luar sana, sudah masuk bagian sepertiga akhir. Bis Kramatdjati melintasi Masjid Agung Demak. Waktu subuh masih satu jam lagi dan aku kembali tidur, memeluk ranselku yang gemuk. Sayup-sayup kudengar lagu dari pemutar musik ponselku,  Di ujung malam, di antara lelap dan sadar mulailah sekarang menarilah bersamaku... Sunyi ini merdu seketika sunyi ini merdu seketika sunyi ini merdu seketika... - Di Ujung Malam, oleh Payung Teduh

Bali #2 : Perkenalan

Aku mengantuk tapi rasa lapar lebih kuat godaannya. Pukul 21.00 WIB. Kota Cirebon sudah tak terlihat lagi. Bis Kramatdjati jurusan Bandung-Bali yang kunaiki sudah memasuki Tegal, kota yang terkenal dengan budaya nge-teh nya. Kota yang juga terkenal dengan warung nasi "waralaba" yang tersebar hampir di seluruh sudut Indonesia, yang sangat akrab dengan kondisi kantong mahasiswa macam aku. Langit saat itu cerah. Aku memandang ke arah tepian jalan dari balik kaca jendela. Rumah-rumah mulai redup cahayanya. Penghuninya sudah mulai melepas lelah di dalam sana. Aku menguap, namun lapar masih membayangi. Tak cukup satu-dua keping biskuit gandum berlapis cokelat menenteramkan gemuruh gendang dalam perutku. Ia butuh lebih dari sekedar penahan lapar. Bis bergerak perlahan lalu berbelok masuk ke halaman sebuah tempat makan yang luas. Kernet bis berteriak mengingatkan untuk membawa serta kupon yang menempel di tiket. Kupon itu ajaib. Satu potong kupon bisa ditukar dengan sepiring na...

Bali #1 : Gentar

Siapa bilang aku tak gentar menghadapi petualangan kali ini? Hey world, I’m sick of thinking how I have to face this very long journey! Tapi sudahlah. Aku sudah duduk manis di kursi tunggu pool bis Karamatdjati. Menanti detik-detik yang terasa begitu lama berganti. Pukul 13.15 nanti, aku akan memulai perjalanan panjang Bandung-Bali. Ah, bicara soal Bali, aku memang menyimpan impian di salah satu sudutnya; Ubud. Meski saat ini, Tuhan hanya mengizinkanku sampai di Badung, atau mungkin juga Kuta. Mungkin. Kita lihat saja bagaimana takdir menggiringku di Bali nanti.

Serang : Dari Alun-Alun Menuju Kampung Ciloang

Aku mencari-cari sosok itu. Ya, sosok yang biasa menggunakan celana jeans dan kemeja yang sedikit digulung bagian pergelangan tangannya. Sosok yang tak lepas dari ransel. Mataku mengitari komplek Alun-Alun Serang yang saat itu dipenuhi lapak-lapak pedagang dan beberapa arena bermain. Sepertinya malam tadi ada pasar malam di situ. Namun sosok itu tak juga kutemukan. Kakiku melangkah keluar, menuju arena olahraga yang masih termasuk ke dalam komplek Alun-Alun Serang. Tempat yang setahun lalu sempat kusinggahi dan disuguhi cerita tentang Banten juga Suku Baduy dari seorang bapak yang duduk di sisiku saat itu. Sayang, aku tak ingat menanyakan nama. Wajahnyapun sudah terhapus dari memori.

Di Sisa Kaibon

Image
Menyoal Banten dalam kilasan episodenya yang rumit akhir-akhir ini tampaknya tidak terlalu menarik perhatianku. Justru, bagian yang paling menarik dari perjalananku kali ini di Banten adalah mengenal kilasan-kilasan kejayaan Banten. Pelajaran mengenai sejarah, bagiku tak pernah terasa membosankan. Kamu tahu Keraton Kaibon? Akupun baru mengenalnya kemarin, itupun hanya sedikit bagiannya saja.  Tak perlu diragukan lagi, Indonesia jarang sekali memiliki transkrip sejarah yang utuh. Seperti halnya dengan Keraton Kaibon yang saat ini bangunan megahnya hanya dapat dikira-kira dari sisa-sisa bangunan yang ada. Apa itu Kaibon? Sedikit cerita mengenai Kaibon dibagi oleh Bang Koelit Ketjil, salah satu fasilitator dalam rangkaian kegiatan Kampung Budaya, Rumah Budaya Nusantara yang diselenggarakan atas kerjasama antara Rumah Dunia dengan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Berjalan Lagi, Berjalan Terus. Terus Saja!

Siang itu kuputuskan untuk berjalan lagi. Sejak kemarin, kegiatanku tak jauh dari kamar kosan. Agak penat sebenarnya, jadi kupikir ada baiknya kalau aku menengok matahari. Selepas shalat dzuhur dan melahap makan siang, aku meninggalkan kosan, menyusuri lagi Wastukancana-Braga-Naripan hingga Banceuy. Kakak keduaku, yang suka kopi itu, beberapa menit yang lalu mengirim pesan minta dibelikan kopi Aroma. Katanya, ingin membekali suaminya yang akhir bulan nanti terbang ke Belanda. Pastinya, ia juga menitip untuk dinikmatinya sendiri di rumah. Beberapa hari yang lalu, aku juga berurusan dengan kopi Aroma yang membuatku melakukan perjalanan pagi hari menyusuri rute yang serupa dengan hari ini. Yang berbeda dengan perjalananku ke Aroma tempo hari adalah kali ini aku berjalan kaki di siang bolong dan berjalan di trotoar sebelah kiri. Selain itu, perbedaan lainnya adalah aku menggunakan jaket dan sandal crocs bukan sandal gunung. Taspun kupakai tas oranye kesayanganku, bukan eiger. Sudahlah...

Di Sela Waktu : Jakarta

Syukur, Sabtu 14 September lalu aku tidak terlambat bangun. Alarm menyuruhku membuka mata tepat ketika suara-suara orang mengaji mengalun dari masjid yang terletak di belakang rumah kost-ku. Subuh bahkan belum datang. Segera aku bersiap. Kereta Argo Parahyangan akan berangkat pukul 05.00 nanti. Beruntung, aku sudah menyiapkan semua bekal yang harus kubawa hari itu. Aku mematut diri di depan cermin, sepotong kaus hitam, rok kain warna hitam, dibalut jaket warna kelabu, dengan kerudung hitam bermotif bunga dan finishing touch berupa kacamata serta heels setinggi 3 cm. Kupikir, setelanku hari itu sama sekali bukan setelan seorang backpacker atau traveler . Aku memang tak benar-benar hendak traveling, melainkan akan menghadiri acara keluarga di Depok. Namun, di sela-sela waktu yang hanya beberapa jam, rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Maka hari itu aku akan singgah sebentar di Jakarta, menuntaskan rasa penasaran pada kota yang sempat kuingini jadi tempat bagi dadu takdirku. Ya,...

Jalan-Jalan Pagi, Teman, dan Secangkir Kopi Pahit

Jalan-Jalan Pagi Pagi yang gempita. Aku melangkah keluar dari rumah kos-kosan Sofi, temanku. Semalam, lantaran pulang terlalu larut dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, aku memilih untuk menginap di kosannya di daerah Plesiran, Tamansari. Masih pukul 06.00 dan langit Bandung agak sedikit mendung, namun beberapa mahasiswa, dengan masih berbalut baju tidur sambil mengucek mata dan rambut yang belum disisir sudah keluar dari kamar kos masing-masing, bergegas menuju ibu penjual nasi kuning. Beberapa di antaranya berjalan tergopoh dengan ransel di punggung dan beberapa diktat kuliah. Ada ibu yang baru pulang dari pasar, ada juga bapak yang pergi mengantar anaknya sekolah. Aku sendiri memilih berjalan santai menuju kosanku di daerah Jalan Pajajaran. Selepas rehat sejenak di Balubur dan mengisi perut dengan dua potong surabi oncom hangat, aku kembali berjalan menyusuri Jalan Tamansari, melewati kampus Universitas Islam Bandung, Sanbe, juga Universitas Pasundan, sebelum akhirnya menyeberangi...

Yang Masih Anak-Anak, Yang Bijaksana [Catatan Perjalanan Krakatau : 4]

Image
Semangatku seperti semangat anak-anak yang baru pertama kali belajar puasa : dapat bangun dini hari dengan segar, kemudian tak sabar menunggu waktu berbuka. Ahad, 25 Agustus 2013, atau hari terakhir pelarian- ku ke Lampung Selatan. Temanku se- homestay pagi-pagi sudah "membuat keributan". Maksudnya, suaranya yang sangat bersemangat mampu membuatkku terjaga. Pukul 02.30 kala itu. Homestay gelap gulita. Listrik di Pulau Sebesi memang terbatas, belum bisa dinikmati sepanjang hari. Kalaupun dini hari seperti ini ada beberapa lampu menyala, itu hanya di titik tertentu saja. Aku sudah bangun. Kalau tak ingat pagi ini kami akan berangkat ke Gunung Anak Krakatau, sepertinya aku lebih memilih untuk meringkukkan tubuh di atas kasur tipis ini. Namun, seperti anak kecil yang baru pertama belajar puasa, semangatku mengalahkan rasa kantuk yang menggantung di sudut-sudut mata. Hampir pukul 04.00 ketika kami berkumpul di dermaga Pulau Sebesi. Langit saat itu mengizinkan kami menikm...