Mengungkapkan Simpati
Sewaktu Bapak meninggal beberapa tahun yang lalu, para tetangga berbisik melihat kami yang tidak menunjukkan ekspresi kesedihan- dalam hal ini menangis meraung-raung. Mereka bertanya-tanya, apakah kami tidak sedih kehilangan seorang yang paling berharga untuk kami. Saat itu, kami menyambut para pelayat yang datang dengan segaris senyum, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, membuatkan minuman, bahkan akhirnya mengobrol ke hal lain yang satu-dua di antaranya menimbulkan tawa. Mamah sibuk mengurusi persoalan administrasi. Bibi memasak di dapur, berjaga-jaga barangkali ada pelayat dari jauh yang kelelahan dan butuh makanan.