Posts

Showing posts with the label Rehat

6 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Ketika Ada Bazar Buku

Image
Saya baru menyadari kalau saya ini bukan penggila buku beneran. Buktinya, saya jarang banget tuh rela-rela desak-desakan datang ke event pameran atau bazar buku macam itu. Pusing dan sumpek! Saya nggak bisa berada di tengah kerumunan orang. Kalau ada bazar buku, saya memillih datang di jam yang kira-kira orang masih asyik ngetem di kantor. Saya juga nggak pernah ngejar pameran buku sampai ke luar kota, seperti waktu ada event Big Bad Wolf di Jakarta tahun lalu, yang bikin kakak saya heboh setengah mati. 

Membaca Alwy

Image
Ada sebuah senja, yang dulu juga, dipenuhi aroma kenanga (Ahmad Syubbanuddin Alwy)   Saya tidak pernah mengenal Alwy, yang dikenal sebagai sastrawan-budayawan Kota Udang. Ini bisa diartikan bahwa saya memang tidak pernah bertemu dengan Alwy, atau mendengar namanya disebut, atau membaca karyanya. Bagi saya, Alwy adalah sesuatu yang belum tercipta dalam ruang kognisi saya.

Di Pojok Ruangan

Tampak seperti tidak disengaja memang, ketika jemari saya menari menjelajah folder-folder yang ada di dalam netbook, hingga berhenti tepat di sebuah folder bernama kenangan. Sebagaimana sebuah kenangan, ia memang bisa muncul kembali tiba-tiba; diinginkan atau tidak. Disengaja atau sama sekali kebetulan. Dan saya kembali pada tepian itu; kenangan. Dan ternyata sebuah kenangan saja tidak cukup untuk dinikmati. Ada yang mendorong saya bergerak lebih jauh sampai akhirnya menemukan sebuah tulisan dalam blog yang dahulu begitu sering saya singgahi. Ada yang serupa dengan kenangan yang sedang saya ingat kembali dalam tulisan itu. Ada rasa yang menyeruak lagi. Bagaimana bisa sebuah tulisan mampu memutar ulang kenangan dalam episode nya yang lengkap? Apa ada yang belum selesai hingga tulisan itu dihadirkan? Semoga tidak. Entahlah. Kenangan membuat saya melihat diri saya sendiri di pojok itu, di waktu itu. Melihat bagaimana lemahnya saya, bagaimana cengeng dan melankolisnya saya. Melihat beta...

Pahitnya Kopi

Image
Bisa jadi, saya akan jadi bahan ledekan di antara teman-teman dekat saya terkait postingan ini. Saya selalu kesulitan untuk bisa menikmati secangkir kopi sampai tuntas. Ada satu kekhawatiran yang selalu menahan saya untuk menyesap kopi. Apalagi kalau bukan kondisi asam lambung yang kurang bersahabat. Sama seperti kebanyakan orang, saya bisa langsung menderita akibat segelas kopi. Jantung yang berdebar tidak karuan serta lambung yang melilit seperti kemasukan banyak udara saat masuk angin. Paling parah adalah kalau sampai tidak bisa tidur akibat dua gangguan tadi. Oh my...!

Mengungkapkan Simpati

Image
Sewaktu Bapak meninggal beberapa tahun yang lalu, para tetangga berbisik melihat kami yang tidak menunjukkan ekspresi kesedihan- dalam hal ini menangis meraung-raung. Mereka bertanya-tanya, apakah kami tidak sedih kehilangan seorang yang paling berharga untuk kami. Saat itu, kami menyambut para pelayat yang datang dengan segaris senyum, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, membuatkan minuman, bahkan akhirnya mengobrol ke hal lain yang satu-dua di antaranya menimbulkan tawa. Mamah sibuk mengurusi persoalan administrasi. Bibi memasak di dapur, berjaga-jaga barangkali ada pelayat dari jauh yang kelelahan dan butuh makanan.

Ketika Dolly Ditutup

Akhirnya, deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak berhasil dilaksanakan tadi malam (18/06). Seperti kebanyakan hal di dunia ini, maka deklarasi tersebut tidak menghentikan gelombang pro-kontra yang menyertainya sejak inisiatif penutupan Dolly dikemukakan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Pro dan kontra ibarat dua sisi mata uang. Bagaimana mengurainya? Saya sendiri tidak punya jawaban, karena begitulah adanya hidup.

Metamorfosis

Saya masih harus menempuh 50an KM perjalanan lagi hingga sampai di muka rumahnya yang sederhana. Lagi-lagi saya bertindak tanpa banyak perhitungan dan hanya mengandalkan hati (semoga bukan nafsu semata, aamiin). Saya sedang menikmati lagi jalanan Pantura yang pagi itu lengang. Elf yang saya naiki juga tak memuat banyak penumpang dan Pak Supir dengan santai mengendarai elf, tak seperti kebanyakan elf Indramayu-Patrol lainnya yang  bertindak seperti raja di jalanan Pantura yang ramai. Saya jadi bisa menikmati keping-keping ingatan saya dua atau tiga tahun lalu di jalanan ini sambil sesekali menengok ke telepon selular.

Am I a Backpacker or What?

Image
Hutan Kota Babakan Siliwangi yang teduh. Saya sedang berbincang dengan seorang kawan. Ini pertemuan kami yang pertama setelah hampir setahun hanya saling menyapa di dunia maya. "Eh, kenalin. Ini Intan, backpacker !" ia mengenalkan saya pada temannya. Saya terpaku lalu menyanggah. Namun ia melakukan lagi hal yang sama: mengenalkan saya pada teman-temannya sebagai backpacker . Am I a backpacker?

Di Suatu Hari untuk Anak-Anak

Malam semakin larut. Semula, ingin kukabarkan padamu tentang purnama malam ini. Namun tiba-tiba hujan mengganti megahnya malam keempatbelas. Aku masih terjaga. Teman, kuharap engkau membaca ini esok pagi, selepas salam kau sampaikan ke penjuru pertiwi, ke semesta di antara kita. Ini yang membuat aku terjaga malam-malam begini. ***** Hai, apa kabar? Esok mungkin akan sangat cerah, meski malam ini hujan datang tiba-tiba. Aku (masih) meyakini hal itu ; ketika matahari mengganti mendung yang menggantung, saat dedaunan menjatuhkan sisa-sisa hujan semalam, dan burung-burung kembali giat menyanyi di antara hilir-mudiknya mencari bagian rizki di bumi. Bagaimana kabarmu? Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau tentu dapat menjawab, "Aku baik-bak saja", atau "Yah, seperti yang kau lihat", atau "Belum satu keping rupiahpun kudapat hari ini, apa menurutmu itu kabar baik?" Terserah kau saja, aku tak akan mendikte. Namun kuharap jawabanmu ada...