Posts

Ini Hari Pahlawan, Saya Tahu

Image
Setiap orang, siapapun itu, layak kita sebut pahlawan. Hmm, sebenarnya saya agak bingung bagaimana membuat pembuka untuk 'celotehan' ini, namun tiba-tiba... entah dari mana datangnya, begitu saja saya menuliskan setiap orang, siapapun itu, layak kita sebut pahlawan. Hari ini, secara kebetulan saya bangun cukup pagi . Dipaksa oleh keterkejutan saya lantaran ketiduran dan belum menyelesaikan sisa tugas, saya tahan-tahan rasa kantuk yang benar-benar tak tertahan. Dua hari ini memang saya tidur lepas tengah malam, yang diawali dengan itu tadi: ketiduran. Maka, sebelum muadzin memanggil-manggil untuk shalat Subuh, saya sudah anteng duduk di hadapan teman setia saya Kirakira, sebuah nama yang saya berikan bagi netbook saya. Pahlawan. Saya berkutat dengan berlembar-lembar tulisan karya teman-teman. Aih, pahlawan! Siapakah gerangan orang yang layak disebut pahlawan? Ah, saya tidak tahu! Kalaupun memang pahlawan dapat saya katakan secara sekenanya sebagai seseorang yang memiliki j...

Begini Ia Mengajari Saya (Bagian 4)

Image
I fell in love with you the moment I first saw you. Hm, entah kenapa tiba-tiba saya ingin menuliskan tentang seseorang, seseorang yang membantu kita dalam mewarnai jalan-jalan kehidupan yang kita lewati. Mungkin kejadian di hari itu meninggalkan bekas di hati saya. Hari itu seperti biasa, kantor agak sepi namun aktivitasnya tetap saja crowded. Pada jam istirahat yang bertepatan dengan waktu dzuhur, saya dimintai tolong untuk menjagai Nafiz, putra salah seorang ibu pengurus yang belum genap berusia satu tahun. Nafiz saya gendong mengitari mushola, sementara umminya tengah shalat. Sejak terlepas dari rangkulan umminya, Nafiz terus menangis. Saya tentunya agak kewalahan juga lantaran tak terbiasa ngemong anak sekecil Nafiz. Sesekali, saya biarkan Nafiz merangkak. Ia memang sedang belajar merangkak. Tak disangka, ia merangkak kencang menuju umminya, menarik mukena yang digunakan umminya. Melihat kejadian itu, saya menggendong Nafiz kembali, berharap bisa membuat Nafiz tert...

Sirkus Emosi

Image
Maaf, judul tulisan ini memang terinspirasi oleh sebuah buku dengan judul yang sama, Sirkus Emosi, sebuah kumpulan cerpen karya alumnus Psikologi UI. Saya harap memang menggambarkan apa yang akan saya tulis. Rasanya sudah lama juga tidak menulis. Awalnya memang menghindar untuk menulis di facebook, blog ataupun jejaring sosial lain, namun pada akhirnya saya memang membiarkan diri saya untuk tidak menulis beberapa bulan ini, dalam artian tak satupun karya tangan saya lahir. Kalaupun ada, itu hanya sebatas update status pada akun jejaring sosial saya, atau sebuah pesan singkat yang saya kirim kepada rekan-rekan via nokia saya, atau lanjutan bab dua skripsi, atau laporan-laporan dan bahan mengajar. Sungguh, saya pikir memang suatu kenikmatan tersendiri ketika kita diciptakan dengan kaki yang berjumlah dua (baca: sepasang), dan tangan yang juga berjumlah dua. Saya berpikir, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengkoordinasi perintah otak ke kedua kaki atau tangan, dibandingkan k...